Jenis Baru Nemo, Ikan Hias Primadona Ekspor

By | August 15, 2018

Nemo sekarang menjadi ikan hias yang sangat populer. Ikan hias ekspor yang unggul ini membuat banyak pecinta ikan hias rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit, termasuk pecinta ikan hias di Indonesia.

Karena kepopulerannya melalui film Hollywood Finding Nemo, menjadikan ikan Nemo menjadi salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi. Untuk alasan ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengembangkan ikan lucu sejak beberapa tahun terakhir.

Sebelum film Finding Nemo terkenal, ikan itu dinamai ikan badut atau ikan badut (clown fish) yang termasuk anak-anak dari suku Amphiprioninae dalam suku Pomacentridae. Ikan badut terdiri dari 28 spesies yang dapat dikenali, sebagian besar dalam genus Premnas. Sedangkan sisanya termasuk dalam genus Amphiprion.

Ikan hias ini berasal dari Samudra Pasifik, Laut Merah, Samudera Hindia, dan terumbu karang Australia yang besar (great barrier reef). Di habitat asli, ikan giru dikenal warna menarik seperti kuning cerah, oranye, oranye, kemerahan, dan kehitaman. Ukurannya mulai dari 6 cm hingga maksimum 18 cm.

Karena permintaan ekspor yang tinggi, KKP berinovasi teknologi untuk giru dengan memverifikasi produk komoditas, yang dikembangkan untuk 14 jenis ikan badut.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, pengenalan varian dan pola ikan hias memiliki dampak positif pada peregangan bisnis ikan hias nasional. Hal ini terkait dengan preferensi konsumen ikan hias yang sangat bergantung pada nilai estetika dari jenis ikan hias.

Dengan semakin meningkatnya varian jenis clownfish dari Indonesia, maka membuka peluang besar untuk bersaing di dunia bisnis perdagangan ikan hias.

“Ketika berbicara tentang sumber daya alam (sumber daya alam) dan potensi ikan hias Indonesia, kami memiliki daya saing komparatif yang tinggi, kami harus menggunakan ini untuk meningkatkan daya saing kompetitif di tingkat global,” katanya.
Keberhasilan mengembangkan 14 varian baru tidak terlepas dari kerja keras Pusat Budidaya Laut Ambon (BPBL) yang menerapkan metode rekayasa dengan teknik perkawinan silang dari berbagai jenis ibu dari alam untuk menghasilkan berbagai pola ikan yang indah dan minat pasar.

“Yang unik, masing-masing varian memiliki tingkat nilai jual sendiri, sesuai permintaan pasar,” kata Slamet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *