Microbubble, Teknologi Ramah Lingkungan untuk Budidaya Udang

By | January 5, 2019

Indonesia memiliki andalan ekspor di sektor perikanan, yaitu udang. Untuk mendukung pengembangan ekspor udang yang lebih komprehensif, berbagai upaya terus dilakukan oleh KKP, termasuk dengan meningkatkan produksi berbagai jenis udang. Salah satunya adalah vaname, primadona pemilik pemilik sentra budidaya udang di Indonesia.
Komoditas yang termasuk dalam kelompok krustasea sangat diminati oleh negara-negara seperti Amerika Serikat. Pada tahun 2018 saja, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan target untuk mengekspor udang hingga USD5 miliar.

Karenanya, Badan Sumber Daya Manusia dan Penelitian KKP Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) pada akhir 2018 mengembangkan teknologi untuk budidaya vaname ultra intensif. Teknologi yang diberi nama Microbubble ini menjadi andalan baru bagi produksi akuakultur nasional untuk mengatasi kendala yang biasanya muncul.

Kepala BRSDMKP, Sjarief Widjaja mengatakan bahwa kendala yang biasa dihadapi oleh petani udang termasuk biaya listrik yang tinggi, modal yang besar untuk skala tambak, limbah yang dikelola dengan buruk, serangan penyakit, dan penurunan daya dukung lingkungan.

“Yang paling sering dirasakan oleh petambak udang, terutama yang berskala kecil seperti rumah tangga, budidaya udang hingga saat ini masih belum memiliki dampak ekonomi pada mereka.” Masalahnya harus diselesaikan bersama, “jelasnya.

KKP menawarkan duet teknologi microbubble dan recirculating aquaculture system (RAS) untuk meningkatkan produktivitas budidaya udang. Menurut Sjarief, petani kecil masih kalah dengan petani udang besar. Ada juga keterbatasan pada budidaya udang yang masih tergantung pada lahan, mengingat lokasinya masih jauh dari sumber air laut atau payau.

Oleh karena itu, diperlukan teknologi akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, salah satunya adalah microbubble dengan integrasi teknologi recirculating aquaculture system (RAS). Kombinasi teknologi ini dapat diterapkan pada budidaya udang vaname.
“Ramah lingkungan dan berkelanjutan, itulah kuncinya,” katanya.

Teknologi Microbubble dan RAS, menurut Sjarief, dapat dikembangkan di darat dengan kepadatan lebih dari 1000 hewan per meter kubik atau sangat intensif dan dapat menghasilkan produksi udang yang lebih baik dan hasil lebih banyak. Prestasi ini mengalahkan pencapaian tertinggi sebelumnya untuk budidaya udang, yaitu budidaya intensif supra.

“Jadi, sebelum itu maksimal hanya mampu mencapai 400 ekor per meter kubik,” jelasnya.

Duet teknologi microbubble dan RAS juga memiliki keunggulan termasuk tidak perlu mengganti air, tidak ada limbah perikanan yang dibuang ke lingkungan, dan dapat diterapkan di tengah kota yang jauh dari sumber air laut karena pengelolaan media air budidaya dilakukan secara berkelanjutan.

Keuntungan lain adalah proses budidaya tidak membutuhkan penyifonan lebih banyak, yaitu proses pembuangan sisa makanan sisa dan kotoran udang. Alih-alih, limbah padat dalam sistem ini akan ditangkap pada filter fisik dan akan digunakan untuk tanaman pupuk.

Dengan semua keunggulan ini, Sjarief meyakinkan semua petani, baik pembudidaya skala besar dan industri, terutama petani skala kecil untuk menerapkannya karena mereka diyakini dapat meningkatkan pendapatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *